jendela nella s wulan ,

jendela  nella  s wulan     ,

Selasa, 28 Februari 2012

AUREOL


kita dihadapkan pada tangan pagi dan kidung senja. lelaki itu
berjalan dan berlarian. sesekali ia petik tangkai bunga agar
harum persendiannya. ia diuji dengan kuncup mekar direbak
merah muda. sesekali tergesa hingga duri menoreh di jarinya,
ia kecup dengan kedamaian. inilah bonanza, cinta ,
boulevard _ kanan kiri pepohon dan bebunga, warnai setiap
derap cepat, perlahan dan ketulusan. telah ada di kitab bahwa:
hidup terkadang harum, pun berduri

kemana pergi ketika senja, aureol yang nampak melingkar
di kepalamu, pada siapa kau persembahkan? atau sedang kau
taruh agar tak tergerus cuaca yang gigil? baiklah, apapun itu
dengan siapa candatawa tentulah mematangkan indah tulus
diri, dengan beraureol maupun tak. petir kadang dibalut gulung-
an mendung. kotaku masih penghujan, deras siang ke senja
dan malam. bebulir terkadang debu, bahkan berpasir lembut.
di suatu taman, anak anak kecil berlarian mengenakan aureol,
terbentuk dari jernih bebulir yang berai dari langit

*****
bandung, 29 Pebruari 2012
(* puisi ini dimuat di antologi bersama: KARTINI INDONESIA dg 68 Penyair Wanita Mutakhir)

Senin, 27 Februari 2012

BESTARI


bayu di sana sentuh lentera dengan serenadenya, bergerak biru
ke utara selatan. di bawah, permadani memandang hampar
ada lirih tangisan, oh wahai bukan isakmu 'kan?

orang orang betapa bestari
punggungtanganya membuka dan menciumi jilidan kitab
wewangi dari anggukan tanda paham makna, pun gelengan

mereka melontar ide ide, juga tentang: mentari dan bulan
pemikiran bestari seiring desau bayu, menerus gerak biru
menaungi diri dengan gazebo hati, ada tangis_ bukan isakmu 'kan?

*****
bandung, 27 Pebruari 2012



Minggu, 26 Februari 2012

SILUET


bagaimana rupa rindu
ia halus, kelopak bunga api tumbuh disetiap musim
di siluet penjuru mata angin
begitu pun rupa cinta _ ia tak melukai setiap nuansa
yang burainya telah sedemikian melarik
berlembar bisik sabar, selami relung, takkan berisik ronta

keindahan rimbun rindu adam dan hawa
hingga mendekat bius pohon terlarang
godaan mesra membisik, hingga terpetiklah,
dikunyahtelanlah buah khuldi hingga terlempar mereka
ke hamparan bumi _ dunia fana ini
pengorbanan cinta, selami relung tak terkira

pagi hari, genggam mentari adalah candu tumbuhnya tunas
begitu rindu _ membawa cinta pada lembar lembar perdu
tak memaksa pun tak dipaksakan hingga sorot mentari api _
tak berasa panas, berbasah basah oleh deras tak rasa gigil
ia hangati sapa, bibirnya keindahan tulus _ tak lukai
demikian, larik larik ini bukan sebab senyap

*****
bandung, 27 Pebruari 2012

Jumat, 24 Februari 2012

SUNDAE

melihat tarian tung tung dan menyimak senandungnya,
keindahan sundae santan tak berbentang

dingin perdu, tung tung lantun tanda sundae tiba
layaknya rebak senyummu, guyurku dengan resapan
tetes ke sela tenggorokan

rerumput catat larian orang tua muda yang gamit
conello bahkan tiramisu
bagiku sundae tung tung lembut diwadah keripik cam-
ping atau roti tawar pasar, santan yang bentur di kera-
kal batu batu es, menari nari membentuk rasa
rindu yang dingin, akan ketibaan sapa yang senantiasa
ada,"kau baik baik di sana ?"
"ya, doamu semoga berkahi. jangan pusing."

kupanggil tukang sundae tung tung, ia lintasi jalan lembah
tiada keluh, di luruh peluh untuk mengepul dapur istri
ia tabah, memberi dingin dari panggilan tung tung
sundaenya turut menari, juga di lembar lembar papyrus di-
decak tinta penyimak
suatu saat kelak, harus kau rasai lezat sundae tung tung
kejaran dinginnya semutu tiramisu juga coklat robin baskin
perasa kita, apa adanya berucap, tak dustai dinamika rasa

*
sundae : sandei : es krim

*****
bandung, 24 Pebruari 2012

Kamis, 23 Februari 2012

J U R A

: happy milad, suamiku Handian

berjam jam rebahan, mimpi barangkali sedang
menari di sana, sebab terdiam di sini. aku_ jura,
kemana perginya ? siapa teriakkan ajakan itu?
keindahan memotret rindu, panas dingin oleh hawa
lembaranmu menari, tawa yang ingin kusimak

berangsang milad, tungkai ditarik rangkai kisi kisi
aku _ jura, pagi tadi lemas, tapi tidak esok
hal baik hal buruk di lembar mimpi _ bunga tidur
telah lama tak bertaburan dipejamku
lelap dari keramaian

suatu saat nanti, Tuhan, ijinkan aku bermimpi
hingga menari di lembaran halus
beralas hamparan lembut, menyambut rindu
padaMu, dengan orang terkasih dan teramat sayang
padaku. dan kau_ Hand, tentu berkhidmat

: tentang kelok usia, mengenai anak anak, juga
tentang tempat meneduh kita dari guyur dan terpa petir
tempat merebah tenang dari segala apa berkejaran
sesekali menjerit, menyalak di sekitar pintu pintu
rumah tempat adamu adaku menjura
*
jura : menangkupkan telapak tangan

^^ miss u
*****

bandung, 23 Pebruari 2012

Selasa, 21 Februari 2012

TUMBUH BERKEMBANG, YAA RABB

1
mengapa terserak cuaca ya Rabb, ketika terhuyung dedaunan an be -
bunga kekiri kekanan. betapa berbeda, betapa mengapa
engkau menahu? dimana kita, berlarian kehalusan tanah aspal yang
pijak. kita jalan juga lompatinya , juga kehendakMU, Rabb

2
melihat tumbuh kembang manusia, tidak hanya lima, enam bulan atau
satu, dua tahun. ia menerus, ada ranah baca yang lurus, berliku, bahkan
melayang hingga terombang ambing, lalu tenang ke depan, menjadi diri.
dari berdepa depa hingar, membawa kesabaran pada tanda hati, isi dan
pemaknaan. membaik dan membiar kita, menemu keindahan tak berbatas.
sebab Tuhan Maha Luas, sebab bumi dan langit sedang berbincang sejuk .
semoga tak percik anyir yang lubang. semoga membawa berkah. namun,
di mana teman sejati? adakah hardik menempa lempenganmu, teman

3
kujumpai teman biru dari gunung berjarak. mata bacanya membuat
dekat. senyumlah, kau di sana mengeja syair syair dengan lapang?
esok, akan ada juluran akar yang menguatkan batang dedaunan dan
esoknya esok, bebunga lahir_ mengembang dari bumi goncang. hingga
kita tak kuasa berucap apa, gemetar di keadaan yang membaik. rerum-
put decakkan sepoy, dingin berbalut bulir rerintik. bijaksana bumi yang
selalu berkontemplasi, untuk tumbuh berkembang, yaa Rabb, untuk kasih
sayang, untuk kedamaian . juga teman baru dari gunung berjarak biru,
terima kasih. bagaimana tumbuh kembang di sana? bahwa kita di sini,
membawa sendiri . kita jumpai hening Rabb, dengan tangkup bergores
diri. adakah hardikan? dari siapa? hingar jerajak menoreh lainnya?

*****
bandung, 22 Pebruari 2012

Kamis, 16 Februari 2012

PERBINCANGAN

langit dan bumi berbincang dengan angin, dengan petir dan deras. senja ,
menekuri diri dengan huruf huruf derai. senantiasa ia menyimak. awal juga
akhir perbincangan siklus


ia berujar dengan dampal kakinya, mengeras oleh pijakan lampah, lari, tawa
dan renungan. "jangan injak kakiku, tak usah juga kau tatap sedemikian rupa.
mari, ingin kutunjukkan kau pada gundukan kisah, yang mungkin kau telah
baca beberapanya." ia beranjak mendahuluiku. "cepatlah, kau menyimak larik
pagi dan senja. tentu kau doa untuk setiap kebaikannya." tersenyum aku ,
berjalan di belakangnya, terhirup embun penat asam dan manis





*****
bandung, 17 Pebruari 2012

Rabu, 15 Februari 2012

PUKULAN

mereka merenung, ada yang duduk bersiul gembira
beberapa mengerut kening menekuri petak petak
yang kadang terjal
ada yang tekun memahat pagi, hingga senja dan malam riuh
menjadi senyap, kemudian usai lembayung ia pukul pukul
hingga meriah percikan

ia senyum, entah bahagia atau risau
tak kentara bahagia apa yang mampu menenangkannya,
lalu aku, entah harus bahagia atau marah
bongkahan gundah menipis dengan sendirinya, jemari luka
ada anyir yang telah kering, kemudian terantuk terbangan kerikil
merupa apa, mengikis relung _tersuruk, mestinya butir butir netes
namun tak jua deras, hanya sembab diiring mendung lembah

senandungmu ? ah, dentang angka angka jam menyita hari hari
pastilah lurus, lengkung dan hentak!
sebab, disanalah sejatinya kehidupan
mereka menekuri petaknya, geriap langkah, dan ada yang terduduk
dipukuli derai udara, pun ada yang memukul mukuli dirinya
masih kubaca tebaran huruf huruf hitam, coklat, biru, putih
dan merah. kupegang, menata dan meniti di julurannya
adakah larik terdengar yang tidak tidak ?
aku, menggenggam huruf huruf yang gerai

*****
bandung, 15 Pebruari 2012

Jumat, 10 Februari 2012

ANGIN APAKAH ITU ?


lihat vitrase jendela ketika akan berangkat atau tidur. adakah sobek oleh
terpa angin yang akhir akhir ini gemuruh dari kebun bibir tanaman itu ?
betapa keras henyakkan tetulang hingga nomer dan huruf huruf bergo-
yang dari jilidannya. lalu, kata riuh apa terhembus, wahai Pemilik bumi:
Kau malu? mohon kabarkan hal hal baik tentang lembah di sini

pagi ialah pagi yang hangat oleh degup cinta, sang Kuasa tiupkan untuk
kita kayuh roda roda. melaju lancar, mungkin bila kerikil di depan _ itulah
gejolak yang kian dewasakan olah tubuh. senja bagiku pun pagi, sehangat
mentari muncul, namun berbalut lembayung. ia iringi kicau bintang bintang
sekepak pipit yang kian jarang kutemui di lembah ini. pandang ke bukit indah,
manglayang _ sejukkan pelupuk. wahai semoga hembus angin yang tiba di
sana, tak nanarkan ranggas ilalang yang mungkin tumbuh dari tiupan yang
terpiuh angin. berebutkah bibir bibirnya menerpamu? ada pilu mengayun,
jumputi, pilahlah reruncing ilalang yang terbawa. secepat itu kerlingnya buai.
di bangku kayu, terduduk aku dengan sahabat pagi siang dan senja

di lembah, kelopak bunga rebak tidak dari usang sunyi, walau senyap _ ia
menderas dihingar bingar langkah detik dan menit yang jalani kehidupan sebaik
tulus lafadz lantunkan berkahnya simphony. membaik, kasih sayang bumi kita

*****
bandung, 10 Pebruari 2012

Selasa, 07 Februari 2012

TEBAL TIPIS


dua bunyi _ mereka bicara dengan hati dan tangan
satu suara _ mereka menari dengan pikir dan kaki
angka imbang _ kokoh huruf huruf berjalan dan ber-
larian ditubuh tubuh kita
mengerut kening, menyaring pasir tanda tanda baca

dengan segenap kata dan sembab,
konstelasi kota perlahan beranjak
dari gelap runyam ke remang,
dari temaram sunyi menuju nyala
dua dentang, perdetik degam denting, mengusap
kokoh kening, membasuh bening peluh yang mungkin
perlahan meneteskan serenade kisah
: akan ketukan jarak
maka yakinkan, apakah hanya lintasi benak ?
adakah mendenting makna , diperam bunyi hati



*****
bandung, 07- 09 Pebruari 2012


Sabtu, 04 Februari 2012

KEPAK MALAM

burung burung malam yang biru, merah dan coklat akan segera beterbangan
melayang layang membuai buana, sehampar kepak bertengger di ranting perdu,
kepakan lain pelukki bebunga yang tak henti doa di hampar dada, membincang senyap
ia merindu teduh pandang, masihkah dengan merah muda segincu bibir wanita di sana
tanggal tanggal mulai berjalan, tinggalkan muram
menyimak baja hati yang selalu ingin genggam hangat doa dengan uban pagi
adakah ia simak rindu betapa berjejalan, memunguti serpihan senyum yang beralamat
wanita berbunga kuncup, mekar ia bila rimbun perdu melambai segera dengan dentingan
doa doa ranting ditubuh batang. tak hendak khayal menari di terbangan daun daun kering
sebab piuh deras angin. burung malam menjadi diri yang matang. biru kepak menata sayap.
malammu tulus melebar kepak _ tak hendak dustai hidupnya nafas . cemburuku pada
gempita canda tawa yang berebut kerling binar. masih desak? selalu kau senyum untuknya?
peluk eratlah larik larik doa yang mungkin merdu mengidung. wahai katakan, kau di mana ?
masih menatap mahalnya pertemuan. ragam berita menarik ulur, pada orang orang kehendak
alam. melayang ramai kata temani monitor, kelak akan kubaca. kaukah juga bersama mereka
yang jalan berlarian memegang hati ?

*****
bandung, 04 Pebruari 2012


Kamis, 02 Februari 2012

PAGI, HIDUPKU

pagi, hidupku
ialah engkau, bersenandung di rimbun senyap
kusimak, sapa menanti lelehan embun di pelupuk
tak gontai di petir langit, sebab hidup ajarkan gemuruh
kau, hidupku, getar doaku
apakah tubuh merupa lembar kepercayaan diri
apakah balutan kata dan tanya menyesak degup dada

kujumpai juga engkau terkadang, di bangku senja
senantiasa hadir disesak penat bumi dan angkaranya
memilah cahaya diri
merinding sebab hampar lazuardi
kabarkan segera, bahwa pagi tak berebut senja
menarilah jari jarimu di jingga tinta, di tuts tuts jiwa
hati dengan bongkahan doa

: itu kau, pagi _ hidupku

*****
bandung, 02 Pebruari 2012

ABABIL

apa yang hendak kau sampaikan, ababil?
terkadang semilir membawa kesejukan. jangan lempar
lemparkan telapak tanganmu, sebab akan goncangkan
geriap darah jari jari. retak kuku,menorehgoreskan be-
bunga api, suluhnya_kebeningan kata dan menumbuh
tindakan diayun tungkai. terkadang semilir membawa
kesejukan, ataukah s e l a l u ... sejuk ?

kemarilah, dekatkan bisikmu
apa yang akan kau katakan, ababil? engkau, rindui senyap
yang harum akan pijar mataku? tapi mataku tak sekilau mi-
likmu, mungkin, sebab kaca mata selalu menempatkan tang-
kai diamnya di hidung, riuh warna kesungguhan, berlarian
sayapmu mengepak tegar, menyibak pasir debu cakrawala
sesekali tanaman salju kau kempit, sekian mil jarak takkah es
esnya leleh? "ia hangat padaku," jawabmu mengibar kepak

aku masih di sini, ababil _ apa yang hendak kau sampaikan ?

*****
bandung, 02 Pebruari 2012