jendela nella s wulan ,

jendela  nella  s wulan     ,

Jumat, 22 Juni 2012

TANGAN DI POHON

ada saat pepohon terdiam, menyaksi tangan tangan mengerubutinya, meraba dahan, mencabuti dedaun kering, memetik bebunga, setiap ruas menguntai wewangi, pun pepohon menggamit lantunan mentari yang setiai pagi terbang di rerupa musim, mengembara ia dari lorong jendela menjejak hamparan labirin, ada saat sang pohon menyejuk: menggenggam tangan, pipi, serta dahi, diselaksa tumbuhnya *********************************** bandung, 23 Juni 2012

BUKU RAPOR

masih jalan jalan di kebun rapor, kanan kiri berjajar pepohon tumbuh, nilai nilai cengkerami kolom, setiap mata pelajaran berbincang, akan subur tandusnya hasil studi, akan lahan yang masih keras dan mesti gembur, akan mendaki keindahan membaca, hingga cerlang angka delapan, sembilan, akan kelak bersekolah di suatu lahan jurusan, akan senyum sayap untuk terbang, menjadi seseorang ******************************************* bandung, 21-23 Juni 2012 * edisi penerimaan buku rapor

Rabu, 13 Juni 2012

NEK MAK ?

apa yang dikidungkan mentari pagi, nek mak?/ katamu, "ialah dendang embun sejuk usai kilau bebintang"/ bagaimana dengan gerimis seusai deras penghujan,/ gerangan kidung apakah itu, nek mak?/ kau jawab dengan senyum, "ialah melodi bibir cakrawala"/ maka ketika senja, kidung lembayungkah?/ kau pun terdiam, nek mak/ dengan menjura kau ucap pelan,"sedang kukidungkan ... "/ sepenuh cinta? cinta, bagaimana nada rupanya? doa setulus tumbuh yang kau tanam/ bila tak ingin kehilangannya, berakar cintamu/ hingga rimbun meneduhi // ************************************************** bandung, 13 Juni 2012

Jumat, 08 Juni 2012

PINTU DINDING MALAM

lembayung usai menatah kelam, bebintang jingkat sepanjang jalan. bila kupejam nanti, pelupuk melantun rindu dan doa untuk ia penyayang. bahwa tidak hanya huruf huruf menyala mendenyut, pun diam debarku, pada ia yang setiai kasih ada. maka taruhlah telapak di telingaku, rentangkan jari jarinya. lalu membisiklah, ucapkan kalimat pukau penghangat relung. kasih, nyala biru dan jingga di jari jari nelusupi simak. biar ia nyala, biar terbuka pintu agar leluasa rindu dan doa laluinya. tulus genggam pelupuk, disetiap yang hembus, tidak untuk meluka ************************** ************************************************* bandung, 08 Juni 2012

Rabu, 06 Juni 2012

PINTU DINDING PAGI

dentang genta menguak pintu dinding pagi. setiap masa pagi untukku. untuk hari hari yang tak usai berkisah. berjalannya lurus hingga menikung atau berbelok untuk larik larik alam, hingga timbunan tanah menggunduk doa: lihat, beberapa malaikat terbelalak dan menyapa, iringi,iringi mereka dengan serenade huruf merdumu. sebab huruf menjadi kata, kata menguntai menjadi kalimat kalimat, nyala apa adanya, telah dibuat dengan keindahan diri per diri, dari kedalaman relung. bila panggung ini lelucon semu, maka tidak menurutku. telah demikian berdepa depa tali sumbu menyala, melantun dengan kesunyian diam mendebar. apakah masih jari jari langit membuat limbung? ia, mereka, pejalan, penarik gerobak yang sinar dijilidan tapaknya. bagaimana dengan tapak biru dan merah muda, angin relung? masih ia memeluk pelupuk hingga gerimis tak mampu memilah sembab dengan bebulir. masih nyala sumbu lilin lilin doa, seiring nampak dengan kesunyian diam yang semakin debur. untuk kesyahduan kisah yang belum juga usai bersyair ***** *********************************************************** ************* bandung, 06 Juni 2012