jendela nella s wulan ,

jendela  nella  s wulan     ,

Rabu, 27 Oktober 2010

pemuda pemudi

pemuda pemudi
: 28 Oktober 2010

peluit alarm merahputih telah bersayap
: tertanda membuluh digdaya bangsa

hay pemuda pemudi
masih adakah garuda didadamu
masih lebatkah bebulu 17 disayap tuk kepak?
45 helai dileher dan 8 bulu diekor?

bercak apa dihelai itu, tak darah bukan
menghitam, terbakarkah?
berapa rimbun kau terbangi,
jejalan kerakal masihkah dendang perkasamu?

tunas kokoh bangsa, pemuda pemudi kukuh
ayo jangan terseok, terus kepak
walau bumi tetes linang bahasa
tampil garudamu, ksatria bernurani

: bukan suatu keniscayaan, bahwa tangguh nadi

*****

Selasa, 26 Oktober 2010

melukis siluet

melukis siluet

tataplah aku, jangan menunduk
kan kulukis mu, serupa siluet

ronamu menggaris, alis mata bibir
dan telingamu heningkan kertas gambarku

lihat, tak kuasa henti
pensil ini menggores sendiri

melukis siluetmu, dihelai kesekian
tatap aku, jangan memejam

* * * * *
Bandung, 27 Oktober 2010

kwintet rabu ujung oktober

kwintet rabu ujung oktober


1
semalam bintang agak lusuh
embun tadi antar mendung
gerangan hingga . . belum kutelan makanan
hurufhuruf berita, micmic penyiar tivi
kabarkan kacakaca pedih tentang bumi

2
lemas aku betapa kerontang
banjir metropolitan hanyutkan tangis
pepohonan lunglai masukangin
mentawai dengan lambai dawai sembilu
deraskan kasihMU, Rabb agar basah tangantangan

3
absenku ini, tahukah wahai mbah marijan
tersebab lunglai berbagai lokasi miris
wafat disujud sudut dapur, lekatkan kita padamu
lelaki lereng merapi tulus tirakat, tak menanya balas
tak minta sapa saat tiga tahun lalu kubertandang

4
kamis dipenghujung oktober
mengenyang oleh cawancawan aksara
mejameja makan melahap hidangannya sendiri
gelas minum sajiannya , kita berkabung, bumiku hitam
ayatayat pujapujiMu, Gusti... hangat memuyuh

* * * * * * * *
Rabu, 27 Oktober 2010



dearest GOD

dearest GOD

surely i love You, God
knowing that You love me
You must have hug a world, thee, as well

God, dearest
how
i
miss
You
* * *


Senin, 25 Oktober 2010

dibangku kayu

dibangku kayu

masih duduk di bangku kayu
seia sunyi sekata senyap
taburan aksara mengata

genggam asa pagi dan senja
putih memuara jingga
jingga rona menghilir putih

raup duduk rayap rindu
langkah ayun tak lebam
masih semat seputih kasih

kau disana, disana arungi sunyi
menunggu pagi, menanti senja
kau tak senyap, dekap kerap doa

masih duduk dibangku kayu
eja aksara alis, kata mata hati
iring jejak kalis, tiada gontai

dibangku kayu, aku tak sunyi
cawan pekat lafadz, teguk kisah
untai bibir aksara, juntai lerai

*****





dasi & ikat pinggang

dasi & ikat pinggang
: di 13 th pernikahan

stelan bersih dan serapi kau kenakan, sayang
latari ulur jemari memercik segala

pinggang diikat tali kencangi hela perut
dada ditali dasi memantas, jarang kau pakai

senja larut, kian ninabobokan jangkrik
bebintang bersiap mendetik sertai bulan

tak basah keringat siangmu, sayang
mengayun tatap tak ratap darah, melega

dasi melonggar hirupkan rindu, doa membisik
meregang ikat pinggang kenyang memamah laju

pada ketat longgar kasihNYA, sayang
tanggal dasimu ingini hirup lega, ruak cinta

kita kenyangkan sebelum benarbenar kenyang
syukur masa meruang sejuk

*****
bandung, 25 Oktober 2010


Sabtu, 23 Oktober 2010

hening


h e n i n g

bak tembaga tempa, prang pring lontar racau
lalu hujan simpuhi bebunyian
lantas membisu sendok dempulkan hias
lalu redam
kau ambil segenap sunyi
kau hanyutkan senyap
kau curi pula nyenyak pulasku
Tuhan, hening . . .

*****


haba haba !
HABA HABA

apakah itu

apa yang kau torehkan disana?

termanguku di suatu tempat karena

seseorang goreskan :

m s a r f

h h f t u

i u z t f

k f o e h

h j i u j !!

"di papan itu, aksarakan kata indahmu," ujarku

"untuk apa, bukankah ini bagus, i n d a h untukku.

dan aku masih akan menulis seperti ini, " katanya

lirih.

" haba haba !" ujarku beringsut berjalan.

[ ~ haba haba : ungkapan, seruan tuk bersegera ]

********

Bandung, 3 Oktober 2010


mengejamu

mengejamu

belum usai kuejamu
digenangan embun bersimbah mentari
renangi pagi .. dikoyak debu

*****

bintang senyum

bintang senyum

kilau sapa hibur segala diamku
bangku rotan dudukkan sendiri
terdiam ... diam entah apa harus ucap

bintang senyum masih
bawakan salam indah
bila itu membahagiakan

*****
bandung, 23 Okt 2010

aku hanya

aku hanya

aku hanya orang biasa, bersyair rindu
dari rekah bebunga yang ditanam Ayah Ibu

ingin berjalan tanpa selongsong yang acapkali
kau panahkan hingga retakkan hati

inginku hirup segala cinta Rabb pada semesta
dengan segenap haru dan syukur

namun bila menerus kau bidikku disangka
Allahku sertai , dengan bergununggunung cinta

jangan kau remukkan dengan kanibalisasimu
tajam, lancip sungguh syak wasangka!

aku hanya biasakan menulis, syair yang entah
hinggakah mampu disimpan rapat penuhi laci kasih

aku hanya serpih biasa
sayangi bumi yang embun, ah lagilagi embun

karena kau tangkal derit debu
dan masih , aku hanya seksama simakmu

. . . . . . . .


*****
bandung, 23 Oktober 2010

lukisan gerimis

lukisan gerimis

sembab mendung kabarkan kunjungan hujan
diberandanya gerimis meripis tipis
setipis gigil bibir , yang jua menebal debam
petir debum guyurkan rasa ritmis
hanyut banjir kuyupkan rasarasa kata

tak lalu gerimis warnakan kuaskuas hati
goresan kanvas merupa rona lebam haru
melembab jemari dilebam kuyup merindu
setelah lebat, menipis kuas lisan
namun tetap kulukis gigil gerimis

*****
bandung, 23 Okober 2010



Jumat, 15 Oktober 2010

she say you

she say you

it must have been known still rains till october

she in vogue thou , gloomy

on through a wave face of you

a nice dust in topple turning upside down

on going

what a twickle, what a how

in a sachet wrapped, in large packed of hope

say you say she , oh how

***

pray breath look

look at a world thee

soft breath in pray

look at pond tears

has been drier, dry

pray i breath we look

********

Bandung, 15 October 2010

what a how ...!

tulisan

tulisan

mana tulisanmu teman, masih awan arakkan goresan lirih
mu yang dulu, masihkah harus kubaca?
tulis, tuliskan catatanmu dengan segenap derak deritan
sebagaimana torehan patuk burung dihelaihelai putih

tak hendak racau deritnya, kicau harus merdu
seperti kudapati aksaramu dikibar rindu tak bantah

tulis, tuliskan harmoni indahmu teman
sekarang dan akan kubaca, kalau saja randu didepanku
kan ku petik iringi aksaramu . . .

sneezing

b e r s i n

* seorang lelaki belum senja usia terkekeh batukbatuk setelah jalan sore

meluruskan tulang belakang dan keringnya. beginilah, harus kususuri je-

jalan licin berbatu ini namun mengapa setiap di kubang senampak danau

mini yang belum diperbaiki itu selalu bersinbersin. debu memang berham-

buran lincah lonjak disana apalagi ditengarai banban truk pabrik dan pe-

nunggang motor. namun ketika tak ada kendaraanpun tetap bersinku tak

henti. alergikah rongga hirupku pada jalan danau itu? batu aspal apa konon

pernah tumpah disana?

anak muda, berhatihatilah lalui jalandanau itu. jaga perkasa hasratmu di

setiap hari yang sarat akan embun,sejuk angin,hangat mentari dan rona

senja dengan syukur segala syukur. biar aku saja yang terbersinbersin .

biar aku saja. esok sebelum nisan melambai, sebelum terlambat karena tak

ada kata terlambat bagiku, kuingin susuri jejalan lain disebelah sana. konon

meski gerimis dan hujan tak ciprat genang airnya. entahlah. bila masih teng-

gorokan ini menggelitik, di musim apapun kini, biar aku saja terbersinbersin.

********

Bandung, 16 Oktober 2010

Rabu, 13 Oktober 2010

TAHI LALAT

tahi lalat

beberapa teman sekolah dasar mengingatku dengan
: oh ia yang tahi lalatnya di pipi (kan ?). ternyata
betapa mengesankan ya, padahal dulu masih setitik
, dan meski kini melebar pun hanya beberapa mili
meter saja. namun enam tahun di sekolah dasar yang
dua puluh enam tahun silam, pertemanan masa kanak
sungguh indah. tentang tahi lalat yang menjadi tanda
atau ciri lahir seseorang, konon dimana hinggap letak-
nya mempunyai arti tersendiri. entah juga. bila didekat
bibir berarti bawel, jika letaknya di bahu maka wilayah
itulah daerah rawannya (?!) . nah ada dua tahi lalatku
tipis di jari kelingking atas dan bawah. mudah-mudah-
an pertanda baik bahwa orang tsb suka berbuat baik
dengan jarinya itu. bagaimana bila suatu hari seorang
teman tanya, wah apa artnya ya, tahi lalatku berserakan
di tangan dan pangkal kaki ? nah, dimana tanda dirimu
berada ? adakah khusus ciri disana ?
*****

Senin, 11 Oktober 2010

CERPEN ; PINDAI

p i n d a i

Layaknya antrian karyawan pabrik ketika pagi sebelum melangkahkan kaki ke ruang kerja, mereka menunggu giliran tuk memindai kartu pegawai. Menandakan bahwa kehadirannya terlalu awal, tepat waktu ataukah terlambat. Beberapa diantaranya menunggu sambil berdoa, sembari langkahkan satu dua jejak kedepan disetiap satu dua menit. Karena pabrik itu adalah perusahaan besar yang terkenal dan mutu buatannya sudah teruji, hingga membludaklah karyawannya.

Tentang doa sembari mengantri, ada seorang wanita yang selalu ingat pepatah dan nasehat neneknya, untuk gunakan waktu sebaik mungkin. Kau tak kan tahu kapan rejeki akan Allah berikan. Basahilah selalu kerongkongan, segala rongga diruang tubuhmu dengan doa pada Yang Mulia, Penggenggam setiap peristiwa hambaNYA. Detak mudamu, detik berlalu tak luput dari pengawasan Rabb. Karenanya, walau tak banyak permohonan atau sudahlah malu karena demikian seringnya meminta, ia lafadzkan dzikir yang hanya ia dan Al Qoyyum saja menahu. entah beberapa orang diantrian itu, ada yang sibuk bercakap-cakap dengan teman didepannya, ada pula yang senyum atau diam merenungi pagi .

Pindai memindai adalah cara yang untuk kini masih tepat digunakan oleh kantor-kantor untuk absensi. Bagi kantor kepolisian, sangat jitu untuk melacak sidik jari siapapun yang akan membuat sim, atau penandaan bahwa seseorang telah melanggar ketentuan. Bagi supermarket dan bandara, memindai ampuh untuk mengecek barang bawaan, apakah terdapat barang terlarang ataukah aman tasnya dibawa masuk dan terbang.

Memindai merupakan cara yang tak dapat dikelabui oleh siapapun karena sistem alat dibuat sedemikian rupa. Terkecuali bila nomor sistem diketahui dengan menggunakan pin atau password.
*****

Pagi jelang siang ketika hening embun tak keluh diganti basuh hangat mentari, genangnya betapa indah, tak pernah pudar dibenak. burung pipit sesekali menukik dan bersiul. Menandakan hari begitu indah, hantar hari-hari siapapun yang hendak laju, menulis karya, memahat rasa dan kata. Keindahan yang tak terbantahkan ketika
masih mampu tuk mengeja, mengetuk jendela dan pintu-pintu manapun yang bisa terbuka, untuk dilalui, dipetik hikmah dari tangkai-tangkai bebunga kursi dan meja.

Sesungguhnya alat pindai selalu ia bawa kemanapun ia berada. Wanita itu, ya wanita itu adalah sahabat baruku, mendapatkan alat pindai entah dari siapa, karena tak seorangpun boleh mengetahuinya.
Ini pemberian sahabat, katanya suatu kali sewaktu kutanya ketika kedapatan sedang melihat sambil menunduk, menekukkan pandangnya
demi membaca sesuatu yang terpindai. Entah apa yang ia lihat. Kemanapun ia pergi tak pernah tidak ia bawa alat pindainya. Dan tak pernah kuketahui pula dimana ia taruh alat itu, barangkali dibalik sweater, disaku bajunya atau di kaoskaki, atau bahkan di balik blusnya, tak seorang pun tahu.

Aku suka memindai, katanya suatu saat padaku. Karena dengan demikian aku tahu apa rasa dan isi hati orang-orang yang berbicara padaku. Apakah ia jujur atau hanya berbasa-basi. Apakah seseorang itu sejatinya baik seputih kapas atau hanya buram kusam ucap dan hatinya. Apakah temanku hanya berteman karena kekayaan bapakku atau memang ia berbagi persaudaraan denganku.

Baiklah, aku sedang tak ingin berdebat denganmu, kamu hebat. Aku senang menjadi sahabatmu dan berterima kasih pada pertemanan ini. Namun kini, mohon pindailah aku bukan dari telapak tangan serta sidik ruas jariku. "Lantas darimana kulihat?" tanyamu tersenyum tipis. Jawabku," Pindailah relungku." Entah kemudian apa yang ia genggam, karena tak pernah kutahu alat pindai apa yang ia miliki. "Hatimu pada orang terindahmu, ia lelaki sejatimu," jawabnya perlahan . Bayu lembut simpuh berhembus, burung-burung bersiul, kumandangkan kidung pagi .

********
Bandung, 12 Oktober 2010





PASAR SENI ITB

pasar seni 10/10/10

minggu 10/10/10 saling papasan pengunjung hadiri

gelar pasar, pasar kreasi seni kreatif letup meletup

oleh tebaran cahaya singsat memikat. pandang mata

ku tak rabun dimanja ragam cinta tangan jemari tunas

tunas bangsa, negri ini sungguh kaya ide karya, negri

ini gelegak akan marak deru kasihsayang. tak kau lihat

jengkat langkah alasalas kaki pengunjung betapa tak

kesah oleh bebasah kisah yang kian desah. ayatayat

alam, ayatayat cinta batin seni, serupa bianglala usai

hujan basuhi rimbun geliat jagad. indah dialun kreasi

berbobot sungguh tak berkesudah dan terus tak usai

********

Pasar Seni ITB, jl Ganesha

Bandung, 11 Oktober 2010

Kamis, 07 Oktober 2010

who are you ?

siapa kau ?

siapa kau, endapendap disetiap hela debarku

: berbisik, bercakapcakap, menahan nafas,

sesekali tertawa ,

seolah menakar, menafsirkan hidup dan mautku !

. . . . . . . . siapa ?

Bandung, 07 Oktober 2010

********

Senin, 04 Oktober 2010

senantiasa syukur

Nella Sriwulandari
senantiasa syukur

apakah itu, darah tak merupa bercak
rasa bernanah lumer dan cipratkan
entah apa betapa sembilu !

akan tiba bayu yang sejuk deraigerai
tak semata kebohongan asam senyum
matahati tak terdustai

oh Gusti kiranya, hantarkan hening
digenang embun, oh embun senantiasa
renangi takjubnya jagad !

********

Sabtu, 02 Oktober 2010

HABA HABA

haba haba !

apakah itu

apa yang kau torehkan disana?

termanguku di suatu tempat karena

seseorang goreskan :

m s a r f

h h f t u

i u z t f

k f o e h

h j i u j !!

"di papan itu, aksarakan kata indahmu," ujarku

"untuk apa, bukankah ini bagus, i n d a h untukku.

dan aku masih akan menulis seperti ini, " katanya

lirih.

" haba haba !" ujarku beringsut berjalan.

[ ~ haba haba : ungkapan, seruan tuk bersegera ]

********

Bandung, 3 Oktober 2010