jendela nella s wulan ,

jendela  nella  s wulan     ,

Kamis, 20 Oktober 2011

GEMBALA


berjalan di sekat sekat labirin, kelok rerumput menggamit
agar tak sedepa pun melicin, senja mengarak denting 12 kekanan
ia gembalakan domba ,  beterbangan bebulunya
angin kala itu dekatkan mimpi akan subur ternaknya
mentari jangkau keindahan menawan, seiring senyum hangat
selalu dirindu:  anak gembala berpedati tali kian percepat larian
domba, mengejar lentera rumput dari semak yang ia kata, taman
tertegun doa merelung juga doamu_ Sang Maha Menahu
walau semakin kutahu, betapa kian tak kumengerti
semakin gegas ia berlari, dengus anjing di balik semak

dedaun bunga taman menepuk sulang, tak hendak kecewa
beberapa tangkai termakan gigit domba gembala
ia bertahan untuk bergetar tumbuh, demi hari  dikunyah peluh
menelannya menjadi bulir daging 
tubuh tubuh makhluk alam, binar melaju 
: mereka masih berlarian, di sekat kelok rerumput
jangan tinggalkan, sebab ia akan berbaring resah
bukan menapaktilasi alas tepleknya, namun tertegun
pesonai wewangi taman taman, usai basah menepi

anak gembala berpedati, berlari lari dengan domba 
berkerumun kasih di hamparan pagi
lonceng kekanan, disetiap dentingnya catatkan langkah  lari
keriap peluh tak mengeluh, syairkan  lompatan gemuruh yang luruh

*****
bandung, 21 Oktober 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar