Sabtu, 29 Oktober 2018
denting jendelaku, lantunkan untaian, puisi, cerpen dan pernak pernik kehidupan... *Bandung, West Java - INDONESIA
jendela nella s wulan ,
Jumat, 21 Desember 2018
Gallery
gallery lukisan a.b.s.o.l.u.t.e
posisi letak seni Ropih braga
ditengarai wajah wajah
serta badan pagi senja
......
*** Bandung, 19 Desember 2018
posisi letak seni Ropih braga
ditengarai wajah wajah
serta badan pagi senja
......
*** Bandung, 19 Desember 2018
Dari Jendela Lembah, Kumpulan Cerpen Tunggal
Dari Jendela Lembah,
kumpulan CERPEN, karya Nella S Wulan
25 Oktober 2018
karena indah, wewarna sekitar, maka tatap,
baca
dan ambillah,
akan engkau temui rerupa indah kehidupan,
dengan cinta, menjura segala
kumpulan CERPEN, karya Nella S Wulan
25 Oktober 2018
karena indah, wewarna sekitar, maka tatap,
baca
dan ambillah,
akan engkau temui rerupa indah kehidupan,
dengan cinta, menjura segala
Sabtu, 09 Desember 2017
SANG WANITA PENDIDIK
: MENGENANG PAHLAWAN DEWI SARTIKA
( 04 Desember 1884-1947)
setiap cuaca, menumbuhkan tangkai diri
: tempat erat kuncup kuncup bunganya
demi tak memandang
tatapan kusam gadis gadis muda sekitar
mengenyah gambaran topang dagu
engkau mengayuh daya,
berlarian tapak tapakmu
mengajari gadis gadis itu
untuk: membaca, menulis, berhitung,
untuk pandai
memasak, terampil menjahit,
: agar mampu membaca torehan serta
menambal robekan dikainnya,
agar mampu menutup sobek luka hatinya
dengan tisik benang benang doa,
membawa harap serta rasa menjadi layakguna
setiap cuaca, menanam kuncup kuncup bunganya
berbasuh siraman gerimis pun hujan
setitik harap yang kian mekar, memekar, tiupkan
wewarna
Engkau, Sang Dewi,
penumbuh gersang kebun kebun diri
rerumput kering, tanaman kelapa beranjak subur
hingga layak dinikmati sedari mentah
bebulir keringatmu asin pun manis,
netes menumbuhkembangkan peserta didik
mereka tak lagi bertopang dagu,
tak hanya berbedak gincu,
tak hanya mengayun gendongan ninabobo,
namun ia mampu beranjak dari tiada menjadi
ada
penuh wewarna dihari kehari
menjunjung pundak bebunga bangsa
setiap cuaca, menumbuhkan tangkai dirinya
membawa subur doa serta cita citamu
***** Bandung,
Desember 2017
Sabtu, 11 November 2017
MOM'S CAKE
Mom's Cake
finding you prepared the cake ingredients
and materials of the mornings to twilights
nice smell surround
mom made it up silently
she's done them, by praying for her kids
rarely sisters helped stirring some eggs
spiltted flours also sugar,
it made our life brighter
these are, what a name of dynamic colors
smoothen by whispering wind blows
we've taken as long as alive
mixer soft voices
cake smelled well
knocking mom's blooming arms
spread them up on grasslands
heating an oven to run slow
waited tenderly up to a time
you could hand in hand
baked a cake by chocolate and fruits
mom's been picked in the patiently basket
it so brighten mornings up
let a dark still, to have eyes' light
let a dark still, to shake nicely
beating the dough: some sugar, butter
a beauty came in days until dissolved
spreading on a pan
baking and making it out of an oven
calmed on a plate, to be served gently
as our life in smooth and stoney sometimes
let us felt, smelt the dust around
a time came by, a gift-time of strong patiently mom
always wanted to give the best things
to make everybody smiled
even she's in arms of how
:you wait me by the cake, mom?
***** Bandung, 12 November 2017
finding you prepared the cake ingredients
and materials of the mornings to twilights
nice smell surround
mom made it up silently
she's done them, by praying for her kids
rarely sisters helped stirring some eggs
spiltted flours also sugar,
it made our life brighter
these are, what a name of dynamic colors
smoothen by whispering wind blows
we've taken as long as alive
mixer soft voices
cake smelled well
knocking mom's blooming arms
spread them up on grasslands
heating an oven to run slow
waited tenderly up to a time
you could hand in hand
baked a cake by chocolate and fruits
mom's been picked in the patiently basket
it so brighten mornings up
let a dark still, to have eyes' light
let a dark still, to shake nicely
beating the dough: some sugar, butter
a beauty came in days until dissolved
spreading on a pan
baking and making it out of an oven
calmed on a plate, to be served gently
as our life in smooth and stoney sometimes
let us felt, smelt the dust around
a time came by, a gift-time of strong patiently mom
always wanted to give the best things
to make everybody smiled
even she's in arms of how
:you wait me by the cake, mom?
***** Bandung, 12 November 2017
Kamis, 02 November 2017
IBU di PANTAI
Ibu di Pantai
disuatu masa kanak kanak, ibu bawaku ke pantai
lengkung nyiur kekiri kekanan
alunan pagi, dikepak camar
ibu ajakku melangkah tapak setapak
pepasir kering membasah
ia asin akan tangis kerang, oleh rintik rumput laut,
sendu dari nitis sembab, selayak airmata kita,"
"jejakkan jarimu,"ucap ibu,
"menggunduk pepasir dari resah pengunjung,
beberapa beterbangan disauh angin,
banyak pula mengendap
memeluk kenangan,''
gundukan basah pasir bermain riak
"ia menimbun rindu," lirih ibu
sesekali pasang gelombang
lalu tepian bibir membawa peluh,
adakalanya airmata tersedu ayun
meluap hingga tenang dihembus sejuk
"lihat kekotor ditumpukannya,
beberapa merepih ke tepian,
banyak juga menempuh pasang arus,"
tercenung aku menggenggam ibu
pepasir membawa kesabaran pagi
hembus angin, menerbang debu debu
melepas, layari semesta
***** Bandung, 03 November 2017
disuatu masa kanak kanak, ibu bawaku ke pantai
lengkung nyiur kekiri kekanan
alunan pagi, dikepak camar
ibu ajakku melangkah tapak setapak
pepasir kering membasah
ia asin akan tangis kerang, oleh rintik rumput laut,
sendu dari nitis sembab, selayak airmata kita,"
"jejakkan jarimu,"ucap ibu,
"menggunduk pepasir dari resah pengunjung,
beberapa beterbangan disauh angin,
banyak pula mengendap
memeluk kenangan,''
gundukan basah pasir bermain riak
"ia menimbun rindu," lirih ibu
sesekali pasang gelombang
lalu tepian bibir membawa peluh,
adakalanya airmata tersedu ayun
meluap hingga tenang dihembus sejuk
"lihat kekotor ditumpukannya,
beberapa merepih ke tepian,
banyak juga menempuh pasang arus,"
tercenung aku menggenggam ibu
pepasir membawa kesabaran pagi
hembus angin, menerbang debu debu
melepas, layari semesta
***** Bandung, 03 November 2017
Selasa, 10 Oktober 2017
LOMPATAN PASIR
tiada gusar di sehampar pasir
tepian pantai tenang menanti angin
bawaku beranjak selami telapak
angin tahu bagaimana mesti hembus
menghalau kusut pepasir
mengenyah gulana
bebulir pasir merentang
tetumbuhan menumbuh dan layu dendang
cuaca bermain cerlang
ditengarai sayap sayap
termenung didenting waktu berbeda dentang
sejuk berlama lama menatap kepakan
lalu gerimis berlesatan
pepasir hibuk melahap bulir keperakan
cengkeramai hiruk, berlompatan
***** Bandung, Oktober 2017
tepian pantai tenang menanti angin
bawaku beranjak selami telapak
angin tahu bagaimana mesti hembus
menghalau kusut pepasir
mengenyah gulana
bebulir pasir merentang
tetumbuhan menumbuh dan layu dendang
cuaca bermain cerlang
ditengarai sayap sayap
termenung didenting waktu berbeda dentang
sejuk berlama lama menatap kepakan
lalu gerimis berlesatan
pepasir hibuk melahap bulir keperakan
cengkeramai hiruk, berlompatan
***** Bandung, Oktober 2017
Satu Dua Ketukan
disatu ke-dua ketukan mereka beri tepukan
berdoa dari banyak batu galian di tetungkai
disatu ke-dua ketukan, pula
mencoba fahami: bilamana menarik kerutan,
dari depaan juntai, makin liku leluka dada
guruh angin, bergelombang tanya
barangkali sesekali mesti
selayak kawan Nabi Khidir
: menahan riak riak tanya sepanjang perjalanan
dari lengang ke ujung belokan rimbun
namun aku hanya manusia
dikitari pepohon, membawaku akan ucap dan tanya
menjawab sekadar, diteduhi rapal doa
untuk segenap kerlip
dari pembeda, aku serta dia disatu dua ketukan
⏳
***** Bandung, September- Oktober 2017
berdoa dari banyak batu galian di tetungkai
disatu ke-dua ketukan, pula
mencoba fahami: bilamana menarik kerutan,
dari depaan juntai, makin liku leluka dada
guruh angin, bergelombang tanya
barangkali sesekali mesti
selayak kawan Nabi Khidir
: menahan riak riak tanya sepanjang perjalanan
dari lengang ke ujung belokan rimbun
namun aku hanya manusia
dikitari pepohon, membawaku akan ucap dan tanya
menjawab sekadar, diteduhi rapal doa
untuk segenap kerlip
dari pembeda, aku serta dia disatu dua ketukan
Dentang Bumi
kutarik tarik lingkarannya
:melebar, namun tetap
360 derajat, ia pun menarik narik, masih saja sama
tercenung, mungkinkah bertambah angka angka pampang?
:melebar, namun tetap
360 derajat, ia pun menarik narik, masih saja sama
tercenung, mungkinkah bertambah angka angka pampang?
menanti esok,
namun tetap ia
dilelangkah 24 dentang jarumnya
namun tetap ia
dilelangkah 24 dentang jarumnya
kupikir akan menambah, walau lebih cepat atau melambat
berlama diputaran, ingatan akanmu
tetap kita ditarik geseran
almanak beserta cepat,
oh wahai, indah ini gegulir hari ke hari
betapa kian
betapa yakin serta meyakini
iradhahNYA pada putaran bumi
bergantian sapa mentari lalu bulan, bebintang
dihatiku, hati mereka, hatinya rentang
menggenggam temaram pun terang
berpeluk basah serta kerontang
iradhahNYA pada putaran bumi
bergantian sapa mentari lalu bulan, bebintang
dihatiku, hati mereka, hatinya rentang
menggenggam temaram pun terang
berpeluk basah serta kerontang
*****
Bandung,19 September 2017
Selasa, 06 Juni 2017
MAMAH, di 30 MEI 2017
ketika waktu tak kuasa direngkuh
kau tak menungguku tiba pagi itu
bebulir rambati pelupuk
kupikir tak secepat itu 'pergimu', Ma
reranting pohon ayunkan kering kelopak
masih pagi kupikir, namun angin, namun beda
tabah sabar menapakki pagi ke senja
basah kering sering kita tempuh
hingga tetiba 'panggilan'NYA
tanya pada mata, lengan ke tumit ayun
dingin tungkaimu telah, Ma
namun hangat, lirih:"Mamah di sini, Ella"
kuasaNYA, membujur ragamu di depan
namun entah, darimana muasal ucap ?
istirahat tenang, didekap naunganNYA
kebun bebunga kitarimu, Ma,
senyap larianku memunguti kenangan
akan rindu di lembar ke lembar masa
***** Bandung, 06 Juni 2017
kau tak menungguku tiba pagi itu
bebulir rambati pelupuk
kupikir tak secepat itu 'pergimu', Ma
reranting pohon ayunkan kering kelopak
masih pagi kupikir, namun angin, namun beda
tabah sabar menapakki pagi ke senja
basah kering sering kita tempuh
hingga tetiba 'panggilan'NYA
tanya pada mata, lengan ke tumit ayun
dingin tungkaimu telah, Ma
namun hangat, lirih:"Mamah di sini, Ella"
kuasaNYA, membujur ragamu di depan
namun entah, darimana muasal ucap ?
istirahat tenang, didekap naunganNYA
kebun bebunga kitarimu, Ma,
senyap larianku memunguti kenangan
akan rindu di lembar ke lembar masa
***** Bandung, 06 Juni 2017
RAMADHAN 1438 H
menyengat terik cuaca
menarik narik air tanah
banyak hal mengering
namun tidak, rinduku
ramadhan genggami lengkung
diri diri menyibak kelam
halau air muka muram
namun, kini memulai beda
rebak kekuncup di kebun doa
tua muda menjura cahya
merdu ayat ke ayat
melankolia ramadhan
adakah ia simak setiap debar
kembang kempis dada
memercik masyuk
khidmat di lautan tadarus
adakah ia simak dijauh dekat ?
berlarian puji jelang berbuka
lalu kecamuk lantun ayat
panjati doa, rindu sembab
***** Bandung, awal Ramadhan 1438 H (29 Mei- 06 Juni 2017)
Kamis, 18 Mei 2017
Suka Duka
SUKA DUKA :
REMANG KUDUK, GAMBAR & HURUF
suka duka ialah remang
kuduk,
rimbun senyap dari sela
gempita
ia menekurinya diperbincangan bumi
suka duka ialah diri diri,
hirup menguar aroma pohon
berdenting dedaun melantun
berserat serat uban, senyumkan pagi
ia menekurinya diperbincangan bumi
suka duka ialah diri diri,
hirup menguar aroma pohon
berdenting dedaun melantun
berserat serat uban, senyumkan pagi
kian kencang dengus angin,
bergelantungan, batang
batang menguat
manusia memohon rimbun bebulir bening
padanya beranjak suka, terkadang duka
suka duka ialah gambar dan huruf huruf
tersirat, tersurat di kubang
berserak di dinding dinding bumi
***** Bandung, 15 Oktober 2011
manusia memohon rimbun bebulir bening
padanya beranjak suka, terkadang duka
suka duka ialah gambar dan huruf huruf
tersirat, tersurat di kubang
berserak di dinding dinding bumi
***** Bandung, 15 Oktober 2011
Sabtu, 13 Mei 2017
Tanya Jawab
gerusan musim bergelombang tanya/
dari helai helai waktu/ dihembus angin,
bergoyang saat kemarau dan penghujan/
bebirai hampar kerakal/
ditandus subur rindang/
tetap genggamlah
sejumput ketenangan cerlang/
ia, sinar
yang tak kasat mata/ hingga ke lengan arus/
bangku kayu simak percakapan pohon
di samping pepintu lembah/
rerumput rebah menari,
bawakan sejuk sehalus rindu
: akan jawab dari setiap tanya/
gelombang luap ke bahu, ke keningmu/
basah membawa pasirnya/
pemikiran debur/
hempas risau
sebab sejati adalah tak jumpai batu lumpur/
likat tanah lalu, yang membalut tungkai ke lutut/
maka dari tanya,
gerusan musim menariknya, menarikku,
untuk kini masa/ jumpai pepintu jawab/
senantiasa genggamlah pasang ketenangan cerlang //
***** bandung, 2013-2017
dari helai helai waktu/ dihembus angin,
bergoyang saat kemarau dan penghujan/
bebirai hampar kerakal/
ditandus subur rindang/
tetap genggamlah
sejumput ketenangan cerlang/
ia, sinar
yang tak kasat mata/ hingga ke lengan arus/
bangku kayu simak percakapan pohon
di samping pepintu lembah/
rerumput rebah menari,
bawakan sejuk sehalus rindu
: akan jawab dari setiap tanya/
gelombang luap ke bahu, ke keningmu/
basah membawa pasirnya/
pemikiran debur/
hempas risau
sebab sejati adalah tak jumpai batu lumpur/
likat tanah lalu, yang membalut tungkai ke lutut/
maka dari tanya,
gerusan musim menariknya, menarikku,
untuk kini masa/ jumpai pepintu jawab/
senantiasa genggamlah pasang ketenangan cerlang //
***** bandung, 2013-2017
Dari Jendela Lembah
tangan siapa di pintu, menetapi buka. atau apa, dengan gerak
tungkainya.
telah tiba di petak beranda. sekitar, tetumbuhan terisak. kuyup
berhuruf
huruf. rerumputpun lembab, oleh dekapan hari hari. buka dan
terbanglah!
sebelum datang seorang lambat. ingatlah untuk setiap belokan: menoleh
ke
belakang. menangkup telapak, basuhi ruas ruas jari . guyur di sana,
mengenai
tanah senja yang menanam nafas. dari jauh dekat bebulir.
menjadi riwayat, oh
betapa ! tanah senja menelan kelam. munculnya
mentari mengupas remang. maka lompat dan terbanglah! untuk warnai
seberapa nyala tanah dan pilar pilar pohon
***** Bandung, 06 Oktober 2012
FROM A WINDOW VALLEY
whose hand at a door?
: stay in open. or what, by swing of feet. have been in
a veranda. surrounds,
the plants sob wet by some words. so as grass, moist of
days' hug. open and
fly! before coming up a late person. remembering, on
every curves. : look at a
back, at glance. by a cupped handful. watering
knucklebones there, rain
showered down on twilight land. which has planted
breath. far near ripples make
a story up, oh what a how! land swallow foggy-
clamp. sunrise, open blurr up,
make the light
***** Bandung, 8th October 2012
This poem has been appeared on the Blue Anthology.
The theme uuffhm sometimes comes ahead, again, in our steps life, particularly in other
few years to come or even this right now. Good and great in always,
Kamis, 11 Mei 2017
SAMPUL KREM
Sampul Krem
buku buku, jilidan larik
menumpuk di meja
agak berserak di rak rak
terkadang, layaknya perbincangan
dalam hati juga di sekitar
bab bab kisah, larik syair
rapi berjajar
akankah berseteru debu
menempati bebangku pada suatu masa
genggami layar, ia sedang dan melintas telah
hari ke hari ialah nomer almanak
takkan lagi ia muram berceceran
sampul krem redam gundah
barangkali masih, tak seorangpun faham
diberapa purnama lagi, merentang
***** Bandung, 12 Mei 2017
buku buku, jilidan larik
menumpuk di meja
agak berserak di rak rak
terkadang, layaknya perbincangan
dalam hati juga di sekitar
bab bab kisah, larik syair
rapi berjajar
akankah berseteru debu
menempati bebangku pada suatu masa
genggami layar, ia sedang dan melintas telah
hari ke hari ialah nomer almanak
takkan lagi ia muram berceceran
sampul krem redam gundah
barangkali masih, tak seorangpun faham
diberapa purnama lagi, merentang
***** Bandung, 12 Mei 2017
Jumat, 28 April 2017
SAJIAN
1/ HIDANGAN
hidangan demi hidangan
ruah tersaji di meja meja
kuambil adanya semampu kunyahan
sayang bila tak termakan
perut telah penuh
buah anggur juga delima masih kubekal
apalagi kurma serta pistacchio
*
2/ HIASAN
hiasan hiasan takdzim di meja meja
terpampang merunut indah
"ambil yang kecil dulu," katanya
koper telah penuh
"kita bawa hiasan besar suatu saat nanti,
bila kesempatan masih akan IA berikan"
baiklah, berjalan kita didentang ke dentang
*****
Madinah-Bandung, 03-29 April 2017
hidangan demi hidangan
ruah tersaji di meja meja
kuambil adanya semampu kunyahan
sayang bila tak termakan
perut telah penuh
buah anggur juga delima masih kubekal
apalagi kurma serta pistacchio
*
2/ HIASAN
hiasan hiasan takdzim di meja meja
terpampang merunut indah
"ambil yang kecil dulu," katanya
koper telah penuh
"kita bawa hiasan besar suatu saat nanti,
bila kesempatan masih akan IA berikan"
baiklah, berjalan kita didentang ke dentang
*****
Madinah-Bandung, 03-29 April 2017
BENING
kitakah kita, peziarah pun mereka
pejalan, haus bening jamuan
satu dua tegukan, mendingin tubuh
berbekal anak kunci, pembuka pintu
merapat hingga dapati celah,
selami putaran mendaras derai
pejalan, haus bening jamuan
satu dua tegukan, mendingin tubuh
berbekal anak kunci, pembuka pintu
merapat hingga dapati celah,
selami putaran mendaras derai
ziarahi, berdesak kening pagi
menyesak lesap doa
tersungkur hening
genang bebulir
menyesak lesap doa
tersungkur hening
genang bebulir
menumpahi remang
membasahi dentang
membasahi dentang
di tetiba menjura, kabarkan langsung
: hinggakah aku diharibaanMU
Rabb, yaa Rasul KekasihMU yaa Khalik
hindarkan fitnah
dilebam larian hasut
di kerakal dada tungkainya
darimana semestinya
memunguti lelehan nyala
senja pagi berceceran,
wahai, mengapa tak bersegera
mengambil alas tikar, kursi?
senja pagi berceceran,
wahai, mengapa tak bersegera
mengambil alas tikar, kursi?
namun aku, masih turut berdesakkan
menatap lama terduduk,
nyala kening mengiring diri diri kelana
tertunduk hirupi harum hajar, attar, kesturi
sesiapa pemohon, menanti
terpana sembari melantun puji
dilesatan bening denting
***** Makkah, Saudi Arabia - Bandung 30 Maret- 16 April 2017
LAUT MARMARA
semi musim di Istanbul
salju awal tahun bawa bebunga tulip serta lily
kuncup ke mekaran di jejalan kota
rebak seindah hidup dihangat dingin
meski terkadang teramat dingin
terusuk tusuk angin tetulang
gigilku sekira 6 derajat celcius
laut marmara pasang
berperahu motor melayarinya
berkawan camar camar
mematukki ikan juga lemparan kecil roti
berlompatan teriakanku
:bentangan tentram Eropa serta Asia
berada disepucuk pimpinan
sekeliling menara berbenteng
kubah kubah menawan
menerus tetiba decak
akan bangunan abad 12 ke 13 ke 14
penoreh larik dikitab kitabnya
pengujung berseteru kenang
menyingkap hembusan semi musim
laut marmara pasang,
banyak pasangan genggami kekasih
tak jua usai berpeluk kenang pun rindu
sembari simak siul camar juga pemandu
seringkali kuubah duduk
agar beterbangan dingin
tiada bekukan indah tatapan
*****
Marmara, Istanbul Turky - Bandung, 07-15 April 2017
salju awal tahun bawa bebunga tulip serta lily
kuncup ke mekaran di jejalan kota
rebak seindah hidup dihangat dingin
meski terkadang teramat dingin
terusuk tusuk angin tetulang
gigilku sekira 6 derajat celcius
laut marmara pasang
berperahu motor melayarinya
berkawan camar camar
mematukki ikan juga lemparan kecil roti
berlompatan teriakanku
:bentangan tentram Eropa serta Asia
berada disepucuk pimpinan
sekeliling menara berbenteng
kubah kubah menawan
menerus tetiba decak
akan bangunan abad 12 ke 13 ke 14
penoreh larik dikitab kitabnya
pengujung berseteru kenang
menyingkap hembusan semi musim
laut marmara pasang,
banyak pasangan genggami kekasih
tak jua usai berpeluk kenang pun rindu
sembari simak siul camar juga pemandu
seringkali kuubah duduk
agar beterbangan dingin
tiada bekukan indah tatapan
*****
Marmara, Istanbul Turky - Bandung, 07-15 April 2017
M E N G A P A SELAMAT PAGI
selamat pagi,
sejahtera serta sehat sahabat
telah dibaca lantunku
bukankah sampai telah hingga
percakapan demi percakapan termaktub?
selamat pagi,
rentang mentari betapa setia
menyelempangkan wewarna hari
sedang aku, terkadang nganga menatap
suatu cercah ditelapak
bukankah menapakki bumi itu indah?
kita pula memilih mana terang mana buramnya,
dicercah hingga menyeruak
KuasaNYA, luas betapa di s e m e s t a
masih di mana tumit tertahan
mengapa selamat pagi,
segalanya tersebab kening mata lengan
terang ditemaram suntuk
saat diri diri entah tak henti merujuk
mendapati jari saling telunjuk
maka, yang teramat pagi
:ialah saat memicing pelupuk
bersamaan menjura bongkahan dada
doa doalah, meraba intuisi,
memilah menyimak ucapan baik
maka, beberapa jam detak pagi berbeda
namun masih di hamparan bumi yang sama
meski di sini, pun nun di sana
senantiasa berselempang putih
lalu, memendar sekehendak rasa
*****
Bandung, 29 April 2017
Senin, 24 April 2017
GUA TSUR
kuketuk ketuk tongkat
dibatu batu tangga ke gua
sunyi kuterengah mencapainya
adakah Kau simak
tuk tuk tuk tetungkai tertatih?
jugakah engkau ketuk tongkat,
saat lari dari kejaran kaum quraisy Makkah?
terengah beradu derak?
Langganan:
Postingan (Atom)
















