DESEMBER
desember, melantun hujan
derai bebulir setiap piuh
rinai tempa setiap senyap
dinding mendingin dari panas
desember, melenggang almanak
disesakki rerupa jelajah
ujung ke ujung berebut simpul
kisah satu dua tiga empat tak terhingga
desember, alun jalan dan lari
papan bebahu latari kening
mengetuk helai ke helai rampak
membaca rindu rindu beranda
desember, penghujung masa
dingin purnama ke-duabelas
lepasan busuk daun dan kelopak
beralih tetumbuh yang kian
***** Bandung, 05 Desember 2014
denting jendelaku, lantunkan untaian, puisi, cerpen dan pernak pernik kehidupan... *Bandung, West Java - INDONESIA
jendela nella s wulan ,
Jumat, 05 Desember 2014
Selasa, 25 November 2014
MENIUP LILIN
Puisi MENIUP LILIN, untuk mas KJ
* satu dari bbrp puisi Nella S Wulan untuk HUT ke-60 usia mas KJ_K.Junaedhi,
seorang penyair, essais, penulis Indonesia. Puisi terhimpun diantologi puisi: SANG PENEROKA, bersama 111 penyair,
yg notabene merupakan sahabat lama & teman-teman berpuisi, launching akhir Nov'14 di pelataran CANDI PRAMBANAN- Jawa Tengah, dan menyusul disejumlah kota lainnya
( dapatkan antologinya yg sekira 500 halaman, dg memesan/di Toko buku :) )
MENIUP LILIN
mas KJ.
Lilin lilin, ia meniupkan larian usia
bulan ke bulan, tahun ke tahun menggenapi kalender
dinding bisu menumpukki larik larik suka duka
wewarna datang dan pergi, menyulam hari,
merobek kepahitan dan lalu memenuhi warna baru
randu telah bahu tungkai
panas dingin tempaan kidung
meniup lilin, menjura kasih
dinding bisu bergumul segala angin
wewarna datang dan pergi
memanggil , segera memunguti serpih
* Bandung, 14 September 2014
* satu dari bbrp puisi Nella S Wulan untuk HUT ke-60 usia mas KJ_K.Junaedhi,
seorang penyair, essais, penulis Indonesia. Puisi terhimpun diantologi puisi: SANG PENEROKA, bersama 111 penyair,
yg notabene merupakan sahabat lama & teman-teman berpuisi, launching akhir Nov'14 di pelataran CANDI PRAMBANAN- Jawa Tengah, dan menyusul disejumlah kota lainnya
( dapatkan antologinya yg sekira 500 halaman, dg memesan/di Toko buku :) )
MENIUP LILIN
mas KJ.
Lilin lilin, ia meniupkan larian usia
bulan ke bulan, tahun ke tahun menggenapi kalender
dinding bisu menumpukki larik larik suka duka
wewarna datang dan pergi, menyulam hari,
merobek kepahitan dan lalu memenuhi warna baru
randu telah bahu tungkai
panas dingin tempaan kidung
meniup lilin, menjura kasih
dinding bisu bergumul segala angin
wewarna datang dan pergi
memanggil , segera memunguti serpih
* Bandung, 14 September 2014
Senin, 24 November 2014
GERIMIS
Puisi: GERIMIS
mulailah gerimis menukik kepala
menatap nanar kering udara
bola bola angin menjangkar
sabar alur yang kian
wahai menarilah, hembus ke dinding dinding
tempat melipat kenang
meletak sisian kening
menyimak perjal disela sela
beburung rintik,
di mana kau taruh terbangan jari jari
menetapi wewarna layang
di sayap sayap Maha
***** Bandung, 18-24 November 2014
mulailah gerimis menukik kepala
menatap nanar kering udara
bola bola angin menjangkar
sabar alur yang kian
wahai menarilah, hembus ke dinding dinding
tempat melipat kenang
meletak sisian kening
menyimak perjal disela sela
beburung rintik,
di mana kau taruh terbangan jari jari
menetapi wewarna layang
di sayap sayap Maha
***** Bandung, 18-24 November 2014
IA, PURNAMA
Puisi: IA, PURNAMA
sebelum lima purnama lalu
ada yang ambil seikat senyap
di lorong, bijak berkisah ia
: tentang matahari,tentang kepala yang berbeda,
tentang menenun sunyi, diasupan, minuman dan kue
ada yang ambil seikat senyap
sejuknya berlarian, sesekali melompat
bagaimanapun, ia simak hingar paginya
berpelukcium Maha
mendapati kening kening kerut
selalu diambilnya seikat senyap
dari perapian manis tawarnya
"taklah aku menggantang asap," ujarnya
untuk hangat nyala
yang disulur bebunga hampar
***** Bandung, 24 November 2014
sebelum lima purnama lalu
ada yang ambil seikat senyap
di lorong, bijak berkisah ia
: tentang matahari,tentang kepala yang berbeda,
tentang menenun sunyi, diasupan, minuman dan kue
ada yang ambil seikat senyap
sejuknya berlarian, sesekali melompat
bagaimanapun, ia simak hingar paginya
berpelukcium Maha
mendapati kening kening kerut
selalu diambilnya seikat senyap
dari perapian manis tawarnya
"taklah aku menggantang asap," ujarnya
untuk hangat nyala
yang disulur bebunga hampar
***** Bandung, 24 November 2014
Rabu, 19 November 2014
CUKUR RAMBUT
PUISI : CUKUR RAMBUT
akhir akhir ini pisau cukur laris manis
dipakai, digenggam untuk pendekkan helaian rambut dibanyak kepala
agar dingin hembus nelisik setiap pori, agar sejuk percik gerimis
pun hujan memulai tandangnya di bumi
akhir akhir ini, banyak lelaki botak di kotaku
orang bilang, itu cara perayaan rejeki
orang kata, beginilah mestinya luruskan nasib baik
agar jauh dari kekusut, agar menepi debu pepasir serta ketombenya hari hari
orang ucap, rerongga lapang di kepala akan lapangkan pula angin esok
kucuran keringat semakin tak sia sia
sebab ia mengalir hangat, catat setiap kabar demi kabar ayunan di benak
sesekali tumpangtindih, tersedak, meluncur
kerut dahi dahi, terpana diterpa tepuk cium
ini saat ketika rombongan lelaki mengusap usap kepala dinginnya
kilau serta percik dawai rasa, enyahkan muram durja
mengemasi jemu, menjernih seiring beranjaknya mentari
ia erat berdesakkan di dada dada bidang, ada perut tambun,
ada petak petak perut digumpal dua gumpal hal, masih terbungkus kain kata
akhir akhir ini kotaku dingin dan hangat
penangkup telapak menjura
pengerat ikat basahi bibir bibir mereka dipujapuji rizki
kepala kepala lapang, ditumbuhi desir, memulai kenakan topi
mengamati bisik disamping, pelukan dari depan, pelukan dari belakang,
***** Bandung, 19 November 2014
akhir akhir ini pisau cukur laris manis
dipakai, digenggam untuk pendekkan helaian rambut dibanyak kepala
agar dingin hembus nelisik setiap pori, agar sejuk percik gerimis
pun hujan memulai tandangnya di bumi
akhir akhir ini, banyak lelaki botak di kotaku
orang bilang, itu cara perayaan rejeki
orang kata, beginilah mestinya luruskan nasib baik
agar jauh dari kekusut, agar menepi debu pepasir serta ketombenya hari hari
orang ucap, rerongga lapang di kepala akan lapangkan pula angin esok
kucuran keringat semakin tak sia sia
sebab ia mengalir hangat, catat setiap kabar demi kabar ayunan di benak
sesekali tumpangtindih, tersedak, meluncur
kerut dahi dahi, terpana diterpa tepuk cium
ini saat ketika rombongan lelaki mengusap usap kepala dinginnya
kilau serta percik dawai rasa, enyahkan muram durja
mengemasi jemu, menjernih seiring beranjaknya mentari
ia erat berdesakkan di dada dada bidang, ada perut tambun,
ada petak petak perut digumpal dua gumpal hal, masih terbungkus kain kata
akhir akhir ini kotaku dingin dan hangat
penangkup telapak menjura
pengerat ikat basahi bibir bibir mereka dipujapuji rizki
kepala kepala lapang, ditumbuhi desir, memulai kenakan topi
mengamati bisik disamping, pelukan dari depan, pelukan dari belakang,
***** Bandung, 19 November 2014
Senin, 17 November 2014
DI BAHU DAHAN
PUISI : DI BAHU DAHAN
dedaun kering berlepasan
hawa riuh bertaburan pepasir debu
"peganglah," panggilnya, mengucap pandang padaku
untuk seketika, untuk berlama lama?
"cobalah," ia berucap
maka aku, berpegang di bahu dahannya
mengencang pegang
nampak orang orang di jauh dekat
membawa serta diri dirinya
di debur angin, terdiam ia
ia bawa senyap
senyap yang meletak gempitanya di suatu tempat
pun menarik tatap ke tatap di suatu masa, di suatu kelak
"peganglah"
***** Bandung, 17 November 2014
dedaun kering berlepasan
hawa riuh bertaburan pepasir debu
"peganglah," panggilnya, mengucap pandang padaku
untuk seketika, untuk berlama lama?
"cobalah," ia berucap
maka aku, berpegang di bahu dahannya
mengencang pegang
nampak orang orang di jauh dekat
membawa serta diri dirinya
di debur angin, terdiam ia
ia bawa senyap
senyap yang meletak gempitanya di suatu tempat
pun menarik tatap ke tatap di suatu masa, di suatu kelak
"peganglah"
***** Bandung, 17 November 2014
BUKU RAPOR
PUISI : BUKU RAPOR
banyak kepala di jejalan,
dilari lariannya membawa kantung kantung nilai : a, b+, b, b-
hari ke hari mengayuh ajar
dari guru guru, dari teman sejawat,
mahaguru berikut alam terurai
derit pepintu membuka warna
banyak kening berjejer,
menempuh semester ke semester, dari a b c
sebab tak tertakar kepandaian,
kebijaksanaan sikap oleh wadah nilai nilai
berlabel bilangan
***** Bandung, 10 November 2014
banyak kepala di jejalan,
dilari lariannya membawa kantung kantung nilai : a, b+, b, b-
hari ke hari mengayuh ajar
dari guru guru, dari teman sejawat,
mahaguru berikut alam terurai
derit pepintu membuka warna
banyak kening berjejer,
menempuh semester ke semester, dari a b c
sebab tak tertakar kepandaian,
kebijaksanaan sikap oleh wadah nilai nilai
berlabel bilangan
***** Bandung, 10 November 2014
Langganan:
Postingan (Atom)


