jendela nella s wulan ,

jendela  nella  s wulan     ,

Selasa, 19 Juli 2011

JINGGA SENJA

jingga

beberapa makhluk fana membisik

takjub akan para manusia ajaib

: berdarah peri


di perjamuan senja

sulang derap perak, mereka

kilau semak berbunga ungu dan coklat

di rerumput api, kidung semi

*****

bdg, 19 Juli 2011

Senin, 18 Juli 2011

S E P A T U

sepatu tak kasatmata goreskan derak lajumu, wahai pejalan
ia tancapkan bentukan jemari bulat, lonjong juga lancip amis
seia sekata dengan laju larinya ucap lontar dari bibir bibir
anak manusia, saling getar dinginkan atau saling memanas
beralas sol, setiai ayunan
:
maka berikan teman teman yang kau renggut dari sekitarku!
kau curi mereka sedari tahun tahun lampau
kaki di kepalaku, kepala di kakiku
tak pernah kusangka demikian hujam paku paku merajam!
debu debu kau sebartiup merupa entah

sepatu tak kasatmata goreskan derak lajumu, wahai pejalan
ia lukiskan gerak langkah
dan kaoskaki selimuti gigil jemari kaki tuk keindahan hangat
ia tuliskan kesahajaan jejalan, walau sendiri sebab teman teman
sejatinya telah ia curi, maka berikan padanya segera

rinai jam adalah sembab pelupuk yang membulir
keringnya tertiup sepoy,sesekali angin badai
bahwa cinta tak bisa dipaksa, bahwa tiada lelaki lain
penuhi derak senyum dan getirku, semisal pagi
ia tuluskan mentari dibertahannya kisah manusia

sepatu tak kasatmata, kemana esok kau bawa ia melangkah?

*****
bandung, 19 July 2011, 12.38 am

Sabtu, 16 Juli 2011

KAMUS

kepadamu wahai yang rasai dekat
jiwamu meregang sangka, kata teman
namun ceruk hati anggur lenyapi dahaga
pun lapar yang meronta buyarkan tetulang
derak deraknya membiru candu
kucari apa makna birunya di kamus

hingga pukau persendian
lantas kuhikmati adanya
senyum yang kucari arti di kamus
belum temu makna
tatap cerlang, tangguh rahang
masih merupa tanya
dan kamus itu ada padamu, disebalik mantel

*****
bandung, 16 Juli 2011

NISHFU SYA'BAN

NISHFU SYA'BAN

by Nella S Wulan on Saturday, July 16, 2011 at 8:34pm

isi pena dengan tinta doa

hingga huruf huruf kerapkan lafadz

sejak kini, dilengkung purnama

ini malam yang tak biasa, sebab meruah hati rindu

Tuhan sayangi kita yang memohon

dengan bebunga dedaun dingin merimbun

*****

bandung, 16 Juli 2011

Kamis, 14 Juli 2011

S O R O T


genggamlah sejumput ketenangan senja
tapi ia ucap ,"inilah pagi, masih rebak mentari, padamu"
tercekat, apa yang telah kumakan hari hari lalu?
tanak nasi doa, lalap sayur mimpi, tegukan bergelas cita
halau lalulalang serapah hardik
badai yang mungkin tengger di tulang tulangku

"kurenungi sketsa kata, mentari rebak," ujarmu
jari jarimu selalu tahu kapan pelupukku terbuka
menulis lukis dari tinta cinta di kanvas musim yang tiba
tak berbatas cerah atau gelap angkasa, sebab bumi terang,
sebab selalu nyala, dari mula ketuk hingga buka dan lalui jejalan

bagaimana kau tahu, untaian menit ku sulam?
padahal warna benang akan mulai kuambil
kau tungguiku menyulamnya, dengan senyum yang masih pagi
bersamaan hadir yang genggam serta berderak
maka, laku apa yang mesti lampah?
terkadang licin bacin hadang, namun jari jariMU (mu) kian erat gamit
: melapang

*****
bandung, 15 July 2011, 01.52 am


Rabu, 13 Juli 2011

NETAS DAN RETAS

sapa tak bermajikan, sepoy angin tak membilang jarak .
pepintu bergagang tak berkunci. sesiapa dapat kapanpun
intip, tengok dan buka. memasukki lorong berlilin, serupa
benamkan diri dihayat doamu. disini aku di hampar tikar,
dihangati sumbu memendar terang. kini lilin di cawan air
berkletik . nyala biruungu, sayang, menghirup bening.


awan tak membilang arak. silantun angin, halus.
hanya pandang cermat, tatap terbanglompatnya. ucap di
lekuk bibir angkasa. masih debu debu dihalau rinai dari ge-
rimis luka. dibasuh hujan bergaram. memerah semburan
naga sekelebat kebat. wahai sayang, menit menit laju kede-
pan takkan mundur. begitupun pendar lilin di cawan kasih.
netas, menjadi ada sebab gelap. retas, memulai hidup sebab
langkah kaki kaki nenek moyang.

*****
bandung, 13 July 2011, 10.40 pm

Selasa, 12 Juli 2011

S U R A T

risalah embun setiai petak langkah manusia
kroak serpih di bibir terjal: orang lega_orang menitik airmata
pipi bumi nanar basah, termangu menyaksi suara bayu

suara satu, satu suara
suara dua, dua suara
hingga suara lima, lima suara!

seorang wanita menyimaknya seksama di bangku kayu
bergerak gerak kaki kakinya hilirkan cemburu rumput dedaun api
di sebelahnya, lelaki rindu dengan senyum pagi
merangkul telentang lengan di bahu bangku, bila cat menguban
bersandarnya pagi benahi muda harapnya dengan cerlang
ketajaman halus bulu bulu tangannya, terayun di suara bayu
ia di manyar yang mungkin patuk patukkan buluhnya
merisalah di helai helai , kelak dibaca bebinar

embun setiai petak langkah mentari
seorang wanita memunajat dititah diri
dari kepedasan rasa yang pernah ia kunyah dan telan
ketika terantuk ranggas birai jejalan
pun elang perkasa dikejauhan kepak
semakin gemuruh badai, kian julang sayap sayap menerbang bijak!
bayu meluruh menyaksi wanita di bangku kayu
hantar petak petak ayun langkah
dikecintaan larik larik bumi langit yang telah mencatat
:
kisah pagi hingga senja malamnya, manyar, elang pun bangku kayu
di rerumput dan dedaun api, bulu bulu tangan goyang kaki
menyurat sirat

*****
bandung, 13 July 2011