denting jendelaku, lantunkan untaian, puisi, cerpen dan pernak pernik kehidupan... *Bandung, West Java - INDONESIA
jendela nella s wulan ,
Jumat, 14 Oktober 2011
MATAHARI MASIH
kau simakkah,
matahari masih membisik doa
letup jingga hingga
hingga degup kening ke tungkai
abaikan bebatu debu
jumpalitan dengki ucap
padahal betapa tak menahu ia
maka matahari masihlah letup
*****
bandung, 14 Oktober 2011
Kamis, 13 Oktober 2011
GENANG DI SUDUT PANDANG
embun haru, genang di sudut pandang
dari jajaran pepohon berkelok
ia membentuk peta dengan batang dan reranting
usai senja, menjadi kunang kunang
lontari bintang hingga kian nyala sayap sayap
kilau neteskan bebulir, hakikat tubuhnya
senantiasa bergidik akan khusyuk genangan
bebulir, di hampar jajar berkelok batang reranting
turuti tapak tapaknya ayun
*****
bandung, 13 Oktober 2011
dari jajaran pepohon berkelok
ia membentuk peta dengan batang dan reranting
usai senja, menjadi kunang kunang
lontari bintang hingga kian nyala sayap sayap
kilau neteskan bebulir, hakikat tubuhnya
senantiasa bergidik akan khusyuk genangan
bebulir, di hampar jajar berkelok batang reranting
turuti tapak tapaknya ayun
*****
bandung, 13 Oktober 2011
Selasa, 11 Oktober 2011
MENANGKUP, MENANGKAP
rebakkan telapak diuntai putik jari
usah selalu menangkup di ceruk doa
penambahan pahala serat di tapak
di kelopak tangan, terkembang ia nangkap,
genggam, mengurai beku detak
dari bebasah kuyup
dari kepul bakaran kayu suluh
hingga api jalar kelindani adamu!
usah selalu menangkup, lengkung tetulangmu
nelungkup, lihatlah
: rebak, rebakkan ia berjajar berlari
usai ambang pepintu terbuka
menetak detak melesung pagi
*****
bandung, 11 Oktober 2011
Sabtu, 08 Oktober 2011
BERANDA RERINTIK
rintik ritmis basuh bebatu debu dari bekunya, merupa indah langit
Allah cahyakan tuk berlarian dan menarikan wangi tanah. gelayut
dedaun bebunga di tangkai mengokoh ranting.
di lorong perbincangan, dinding turut menangkup, bisik lirih remang.
malaikat memahat cahya di relung hingga tangan kaki orang orang
kecintaannya. bersampingan,beberapa perbincangan menanti tepuk.
ada yang bermantel, berjins sobek, bergaun tebal tipis, berkaoskaki,
bersarungtangan. jika tindakan akan tentramkan ketenanganku, ber-
tabahlah aku di sini. tapi bila anyir akan ritmis, tak hendak kusimak
rangkai ucapan yang duduk di bangku bangku meja menanti panggil.
tapi adakah cahya melukai? kepada siapa kubagi asing, pukau dari re-
lung, beberapa saja rasai. mestikah dipahat? hati ini tak beku,tak mes-
ti jajar melorongkan diri . biar di suatu ranah sana angin membentuk.
malaikat menahu, tak usah ia memahat. mungkin beberapa hati sebeku
gundu, bebatu atau bongkahan mengkal. mereka masih di sana. dan
telapak tarikku jalan, raup gerimis , darinya kemarau kian menepi. kun-
cup kuncup bunga menyembul di sela sela jari kaki kaki. kita di beranda
rerintik, bergulma zat bumi. dan rerumputan, basah ia tergelak canda,
sesekali sendui muram disekian perbincangan.
*****
Jumat, 07 Oktober 2011
DI TELAPAK TANGAN
lihatlah onggokan apa begitu gumpal di telapak tanganmu , kerikil debu, lembaran kusut, bebunga atau dedaun cemas, gumpal kerakal tabah ataukah bebatu rindu dan karang doa ?
jika kau lihat milikku, akhir akhir ini tak sedang ingin mewarna
senyum entah tak ingin mengembang, nelikung jam jam menawar gerai tapak
meraup pagi yang terkapar, bersegera telapak tangan nangkup
erat di jari jariNYA, berurat semburat merahnya ungu
kemudian siang rebak, bertandang senja di beranda sang malam
tanah melengkung beraspal dingin, gelayut di tarik ruas ruas jeruji
Sang Kuasa , segala ajaibnya IA gamit apapun
terayun aku pun di ayunan ruas ruas jariNYA
onggokan likat memburai lunak, senyummu di sana
malam sekira hunus pedas, mengalun alus hingga di embun segala musim
: nelungkup loncati ruas ruas jariNYA, jariku, bila mungkin jarimu
di telapak telapak tangan, demikian gumpal neka: bungah kesah rasa
*****
bandung, 07 Oktober 2011
jika kau lihat milikku, akhir akhir ini tak sedang ingin mewarna
senyum entah tak ingin mengembang, nelikung jam jam menawar gerai tapak
meraup pagi yang terkapar, bersegera telapak tangan nangkup
erat di jari jariNYA, berurat semburat merahnya ungu
kemudian siang rebak, bertandang senja di beranda sang malam
tanah melengkung beraspal dingin, gelayut di tarik ruas ruas jeruji
Sang Kuasa , segala ajaibnya IA gamit apapun
terayun aku pun di ayunan ruas ruas jariNYA
onggokan likat memburai lunak, senyummu di sana
malam sekira hunus pedas, mengalun alus hingga di embun segala musim
: nelungkup loncati ruas ruas jariNYA, jariku, bila mungkin jarimu
di telapak telapak tangan, demikian gumpal neka: bungah kesah rasa
*****
bandung, 07 Oktober 2011
Selasa, 04 Oktober 2011
MENEDUH
berlarian, berlompatan
telapak telapak meraup teduh
dari kemarin asap
lalu hingga sendiri saja
cekam, bumi cengkeram
mengapa api memburu
tata birai
di mana pagi meneduh
di ufuk sejuk rengkuhmu
namun wahai,
sungging senyum belum menguak
meneduh di mana rimbun
*****
bandung, 05 Oktober 2011
Minggu, 02 Oktober 2011
RINTIK
bunga aneka aroma, surga di meja
seketika merintik kelopak
bebulir kata telah terhisap, dari tangkai
bawakan sari makna kerebak sukma
rekah senyap, gejolak kuasa angin
meniup serpih, menitik doa putik
mungkin kini memuara rintik pelupuk
direpih lirih, sorai lerai jangan lukai
julang cita berlaksa derap
geming melarik keheningan biru
*****
bandung, 02 Oktober 2011
seketika merintik kelopak
bebulir kata telah terhisap, dari tangkai
bawakan sari makna kerebak sukma
rekah senyap, gejolak kuasa angin
meniup serpih, menitik doa putik
mungkin kini memuara rintik pelupuk
direpih lirih, sorai lerai jangan lukai
julang cita berlaksa derap
geming melarik keheningan biru
*****
bandung, 02 Oktober 2011
Langganan:
Postingan (Atom)