denting jendelaku, lantunkan untaian, puisi, cerpen dan pernak pernik kehidupan... *Bandung, West Java - INDONESIA
jendela nella s wulan ,
Jumat, 03 Desember 2010
pada pengetuk ketuk
bumiku
bumiku: musim gugur dan penghujan
1
di belahan utara, rona kini
pada gugur musim, berangin kata sunyi memercik salju
gugur dedaun jerit merontok pasi
pada jalanjalan wadahkan saji
menggumpal hati tiada gugur
menghelai lahan didingin bercak tunai semai
2
di belahan selatan, rona kini
kathulistiwa pada penghujan musim
kemarau beringsut dengan tak kentara
pada aksara, langit bumi wadahkan saji
semarak alam betapa nian!
kita pungut elus selalu ragam musim menghalus
tunggu, berjalan kita!
hingga genap pohonpohon tumbuh
semarak alam betapa kian!
menumbuhkembang tunastunas ...
********
Bdg, 14 Nopember 2010
hummm ...
deru debu
embun sedari tadi telah kugenggam
basuhi mimpi semalam akan datangmu
beranjak, berganti deruderu debu
gumpal merandu
: diesok masih semaikan
***
gerimis pagi
gerimis pagi merintik aksara
menjurai nuansa pun
: menilik bilangan, oh
dimana sejati ...
********
bdg, 131110
pahlawan, oh ...
pahlawan, oh ...
kita pagi berupacara, nunduk doa
di hadapan tiang bendera
melayang pada nisannisan
tertidur senyum di alam baka
sebab bumi gejolak, banjir airmata
juang kini tiada serupa juang lalu
kini pun getir darah, biduk tragedi
sembur lumpur kata, pasir rasa
juang kini bergelut maut sekolah
bambu runcing bentengi buku palung
apapun kerap runcing
meruncing, oh . . .
********
Bandung, 10 Nopember 2010
Minggu, 07 November 2010
BEDAK APA ITU, BU
bedak apa itu, bu
mengidung petang saat bebintang mulai tandang dengan larillari kecil
sembari pikuk cengkerama. seorang anak perempuan saksikan tivi dengan
seksama menanya tentang berita pilu akan tangis sesenggukan ibuibu yang
simbah genang hujan beralih kesembab matanya. bengkak merah kehitam ,
bukan pandangan indah."mengapa ia, bu? ada apa dengan sembur asap gu-
nung merapi? mengapa orangorang bersedih, berlarian?"
anakku, Gusti sedang menguji dan mencoba kita dengan letusan merapi. "tapi
kenapa sesak kulihat gumpal asap yang seperti bulu domba itu ya, bu?
Nah itu.. yang itu lihat, bu bedak apa yang ia pakai? mengapa tidak putih seperti
bedak dingin yang biasa ibu pakai? nenek itu, bu, berkacakaca matanya, linang
tetes airmatanya , ah bukankah bedak dingin itu adem dan tidak pedih. itu bukan
bedak dingin seperti yang ibu pakai? mengapa abu menghitam dan seperti lumpur?
ia menangis dengan bedaknya, bu?" perlahan sang ibu menjawab tersedak sebab
memang tayangan tivi tentang korban letusan merapi yang mengharukan. "Anakku,
bedak itu bukan bedak dingin lulur seperti yang ibu pakai, bedak itu adalah lumpur
yang sembur dan belum sempat dibersihkan karena tak pula tersedia air tuk mem -
bilasnya saat itu. bedak itu panas hingga genang linang airmatanya menahan pedih.
rambut mereka pun gimbal karena sembur lumpur yang memilu."
"begitukah, bu, bukan bedak dingin butiran? ah, panas lumpurnya ? tak kuasa ku
menontonnya, kasihan mereka, bu, semoga cepat tiba pertolongan ya, bu. juga
gunungnya aman berdamai tak muntahkan lava lagi."
" Gusti sayang mereka kan, bu? Oh, bedak itu bukan bedak dingin, bu ?"
. . . . . . . .
********
Bandung, 07 Nopember 2010
Kamis, 04 November 2010
PUISI KAWAN PENA
puisi kawan pena : mas Dim ( selamat tuk buku antologinya )
juga Youri & Rangga yg aktif & kreatif
inginku tulis jg tuk kawan lainnya yg telah menginspirasi,
:teriring ucap terima kasihku untuk Soni Farid Maulana, Hasan Aspahani (belum kubaca antologinya),
juga Fahri Asiza, Dwi Klik, Ganz Pk, kak Magi luna, mba Tita,mba Weni, Faradina, Elis TB, dll.
Allah SWT naungi kita selalu ...
LELAKI BERSAJAK EMAS
: Dimas Arika Mihardja (Jambi)
tahukah, Prof
saat nafiri utama ditiupkan
kau masih dan masih berkutat
diresah sunyi, meditasi diri yang khusyuk
sejukkan bungabunga dicawan
senyum tetes haru
membuah sajak sexy yang emas
dibuai kata, kita membaca
PEMUDA PANTAI
: Youri Kayama (Padang)
di bawah bisik pantai selami karang
pesisirnya, teater pasir yang derit
berangkatlah, jangan hiraukan tetes
airmata matahati yang gelombang
lirih itu hanya meredammu
berangkat, tuju hingar kota
pada ombak semak yang esok
kau puisikan: banggamu akan pemuda pantai
PEMUDA PONDOK
: Rangga Umara Nh (Bandung, Jkt)
berucap ia sebagai pemuda
dengan silam ditelapak timur
getir yang jati, syukur yang jati
tiada kecam dikecamuk belukar
di rimba kota membadik mimpi
di belantara bumi menukik paruh
si saung sunyi melubang dzikir
: tak siasia bedug pondok dewasakan terompah
********
Bandung, 04 Nopember 2010