jendela nella s wulan ,

jendela  nella  s wulan     ,

Selasa, 07 Februari 2012

TEBAL TIPIS


dua bunyi _ mereka bicara dengan hati dan tangan
satu suara _ mereka menari dengan pikir dan kaki
angka imbang _ kokoh huruf huruf berjalan dan ber-
larian ditubuh tubuh kita
mengerut kening, menyaring pasir tanda tanda baca

dengan segenap kata dan sembab,
konstelasi kota perlahan beranjak
dari gelap runyam ke remang,
dari temaram sunyi menuju nyala
dua dentang, perdetik degam denting, mengusap
kokoh kening, membasuh bening peluh yang mungkin
perlahan meneteskan serenade kisah
: akan ketukan jarak
maka yakinkan, apakah hanya lintasi benak ?
adakah mendenting makna , diperam bunyi hati



*****
bandung, 07- 09 Pebruari 2012


Sabtu, 04 Februari 2012

KEPAK MALAM

burung burung malam yang biru, merah dan coklat akan segera beterbangan
melayang layang membuai buana, sehampar kepak bertengger di ranting perdu,
kepakan lain pelukki bebunga yang tak henti doa di hampar dada, membincang senyap
ia merindu teduh pandang, masihkah dengan merah muda segincu bibir wanita di sana
tanggal tanggal mulai berjalan, tinggalkan muram
menyimak baja hati yang selalu ingin genggam hangat doa dengan uban pagi
adakah ia simak rindu betapa berjejalan, memunguti serpihan senyum yang beralamat
wanita berbunga kuncup, mekar ia bila rimbun perdu melambai segera dengan dentingan
doa doa ranting ditubuh batang. tak hendak khayal menari di terbangan daun daun kering
sebab piuh deras angin. burung malam menjadi diri yang matang. biru kepak menata sayap.
malammu tulus melebar kepak _ tak hendak dustai hidupnya nafas . cemburuku pada
gempita canda tawa yang berebut kerling binar. masih desak? selalu kau senyum untuknya?
peluk eratlah larik larik doa yang mungkin merdu mengidung. wahai katakan, kau di mana ?
masih menatap mahalnya pertemuan. ragam berita menarik ulur, pada orang orang kehendak
alam. melayang ramai kata temani monitor, kelak akan kubaca. kaukah juga bersama mereka
yang jalan berlarian memegang hati ?

*****
bandung, 04 Pebruari 2012


Kamis, 02 Februari 2012

PAGI, HIDUPKU

pagi, hidupku
ialah engkau, bersenandung di rimbun senyap
kusimak, sapa menanti lelehan embun di pelupuk
tak gontai di petir langit, sebab hidup ajarkan gemuruh
kau, hidupku, getar doaku
apakah tubuh merupa lembar kepercayaan diri
apakah balutan kata dan tanya menyesak degup dada

kujumpai juga engkau terkadang, di bangku senja
senantiasa hadir disesak penat bumi dan angkaranya
memilah cahaya diri
merinding sebab hampar lazuardi
kabarkan segera, bahwa pagi tak berebut senja
menarilah jari jarimu di jingga tinta, di tuts tuts jiwa
hati dengan bongkahan doa

: itu kau, pagi _ hidupku

*****
bandung, 02 Pebruari 2012

ABABIL

apa yang hendak kau sampaikan, ababil?
terkadang semilir membawa kesejukan. jangan lempar
lemparkan telapak tanganmu, sebab akan goncangkan
geriap darah jari jari. retak kuku,menorehgoreskan be-
bunga api, suluhnya_kebeningan kata dan menumbuh
tindakan diayun tungkai. terkadang semilir membawa
kesejukan, ataukah s e l a l u ... sejuk ?

kemarilah, dekatkan bisikmu
apa yang akan kau katakan, ababil? engkau, rindui senyap
yang harum akan pijar mataku? tapi mataku tak sekilau mi-
likmu, mungkin, sebab kaca mata selalu menempatkan tang-
kai diamnya di hidung, riuh warna kesungguhan, berlarian
sayapmu mengepak tegar, menyibak pasir debu cakrawala
sesekali tanaman salju kau kempit, sekian mil jarak takkah es
esnya leleh? "ia hangat padaku," jawabmu mengibar kepak

aku masih di sini, ababil _ apa yang hendak kau sampaikan ?

*****
bandung, 02 Pebruari 2012

Sabtu, 28 Januari 2012

TELAPAK

selalu bintang bintang setiai bulan walau tak senyala pijar kemarin
wahai, adakah tangan lain genggam, untuk suluh di lengan bahu
kini, sebab bumi indah _ adalah terang lilin lilin
sebab kidung alam _ adalah gurat senyum
telah kau bawa lembaran rindu, semi hingga kapan tak terduga
kau toreh desau nyala dan kusam, tarikan lurus lengkung dan kelok
catatkan nafas dengan warna tulusmu, karena ia bersinar seiring
bebulir langgam mesra, tak pada pesona lain, masih di telapakmu,

apakah itu masih matamu? ketika terduduk rindu, cekam
ketika itu kau pandangi tatap tatap dari pintu lain
rok rok wanita itu berkelakar, putar putar di lutut dan mata kakinya
kau tertawa, menyeringai _ tentu tak ingin ku lihatnya
menjauh saja, bila ketentraman sergapmu sedemikian
betapa sesak, seteru piuh perlahan bertandang
badai terasa meruncing tanpa deras doa

membening doa, bahwa harum mentari masih merimbun embun, ia tiba entah dari hati ataubeberapa penyimak tekun memahat riuh dan senyap
di lembaran hatinya, telapak memilah lurus lengkungnya nyala api
untuk keindahan bait bait, yang terbentuk dari senyum dan air mata
betapa hidup, tak seperti membolakbalikkan telapak tangan
ada guratan garis garis di sana, kian tak kupaham bagaimana mengejanya
: larik larik muram_limbung pandang, pun larik terang, euforia ketulusan yang tak basa basi
lafadzku padamu, bijaksana darah yang menggelegak sedari lalu

tempat di mana endap setiap rasa, dan terkadang terbendung benci, hembuskan sahara yang tawahai Allah, Kau cipta kami , menggerai_ terkuak dari pintu derit nestapa
juga pintu syukur , padaMu penggenggam cinta dan hidup matiku

: katakan, di mana aku kini? sebab terkadang telapak kita berjauhan


*****

bandung, 29 Januari 2012


bandung, 28 Januari 2012

Rabu, 25 Januari 2012

BADAI MATAHARI

1/ ketika jelang

tangkap, tangkaplah pandang akan aurora_yang mungkin muncul
di badainya matahari nanti. itu sebab kidung angin betapa
merdu melambai piuh. alamku_ senandungkan gigil, dari pagi. deru kibas
dedaunan, seperti limbung reranting didenting arak . mana
genggam, mana genggammu yang nyalakan tabah puja puji padaNya


2/ pukul sebelas, duabelas malam

masih di sini, angin menari layang_meski tak semeriah hari kemarin. ketika malam pukul
sebelas taburan kilau bintang bintang meruah cemerlang. lengkung lentera hadir. aurora
sapa bumi indah_menawan. senja ini menarik jendela untuk turut cengkeramai kisah badai
matahari, meraba bumi, merasuk pesona. sebagian aliran listrik sekitar kota padam, tapi
rumahku tetap terang, senyala rindu yang tak terhalang. berselonjor tungkai akan hidup
yang masih kelak.genggam takkan terhalau,masih mereka ucap dusta? badai ini ialah dampak
pijar surya. peristiwa langka dideras kisahkasih pengembara bumi. gelombang gelombang aliri
darah dan tetulangku, degam akanmu. menjalar pijar mentari tembusi
planet planet lain, menjalar pijar doa menikamku

*****
bandung, 25 - 26 Januari 2012

Senin, 23 Januari 2012

MUARA ANGKE

ketika awan di angin menguak ratusan lembar gelombang bunyi bunyian
begitu pun mata, hidung, mulut_menguar beragam pandangan di benak,
tempat kita taruhrasakan manis pahit asam pedas dan anyir

angke, muara angke layang jumpa riwayatmu. disambut rerupa aroma
asin anyir laut dan sirip sirip, di lima menit awal kedatangan. berjajar wa-
dah ikan gumuli pecah gerusan es balok. daging ikan,sebentuk nyata,dibeli
tawar sesekali dirubung musik dangdut juga dayu pop melankoli. penjual
agak bergoyang, pun ikan ikan: ayam ayam, salmon, kerapu, kue, bawal,
kepiting, udang dan kerang. mulut mulut batu esnya giat memanggil pembeli.
penimbangan, pintu ritual kejujuran. sekian kenakalan akan layukan selera
protein, kembangi kecewa. meski tetap kepul arang arang batok undang
lezat pelupuk, perasa dan perut. aroma asap warna ciptaan bakar. angke.

*****
jakarta, 22 Januari 2012